Peran Organisasi Mahasiswa dalam Menciptakan Mahasiswa yang Siap Berkontribusi dalam Kehidupan Bermasyarakat

Mahasiswa, standing yang di sandang oleh seorang yang baru saja tamat dari sekolah menengah atas yang memasuki perguruan tinggi untuk selesaikan studi cocok dengan program yang di pilih. Bagi penduduk jaman sekarang, sekiranya seseorang tidak kuliah maka kerugian besar bagi dirinya. Menciptakan tempat kuliah Asri dapat Meningkatnya persaingan global dan majunya teknologi memicu setiap manusia harus siap beradu dan berkontribusi bagi lingkungannya. Maka di sini pendidikan termasuk menjadi standar ukuran siap tidak nya seseorang untuk beradu dan berkontribusi. Bisa dicermati dari banyaknya lowongan pekerjaan yang tersedia menuntut beberapa syarat pelamar kerja benar-benar harus seorang sarjana. Dan pantaslah sekiranya tersedia pepatah yang mengatakan, “tuntutlah pengetahuan sampai ke liang lahat”.

Ada 4 tipikal mahasiswa yang tengah selesaikan studinya di Perguruan Tinggi, yakni mahasiswa aktivis, mahasiswa organisatoris, mahasiswa hedonis, dan mahasiswa akademik. Seorang mahasiswa dengan tipikal aktivis cenderung menyelaraskan pada keperluan akademik, organisasi/lembaga dan persoalan social. Mahasiswa aktivis punya idealisme yang siap mereka perjuangkan dengan dampak yang telah mereka memperhitungkan sebelumnya. Lalu tersedia mahasiswa dengan tipikal organisatoris, lebih tekankan keperluan organisasi/lembaga dan cenderung pasif pada akademiknya dikarenakan kesibukannya di dalam berorganisasi. Mahasiswa organisatoris biasanya belum dapat menyelaraskan pada organisasi dan akademiknya. Hal ini yang memicu mahasiswa tipikal organisatoris kacau di dalam perkuliahannya dikarenakan lebih repot dengan program organisasinya.

Lalu tersedia mahasiswa dengan tipikal hedonis, lihat kata hedonis telah dapat kami asumsikan bahwa tipikal ini merupakan mahasiswa-mahasiswi yang tergolong acuh tak acuh, tak hiraukan dengan segala kegiatan kampus, tak peka dengan persoalan social, dan lebih tekankan ketenaran dikarenakan penampilan semata. Mahasiswa hedonis lebih bahagia ikuti trend dan mode ketimbang ikuti pergerakan mahasiswa yang tersedia di di dalam kampusnya. Dan paling akhir tersedia mahasiswa dengan tipikal akademik, mahasiswa yang memotivasi dirinya hanya untuk kuliah saja dan capai target-target tertentu layaknya ber-IPK tinggi dan tamat secepat mungkin tanpa ikuti kegiatan kemahasiswaan yang mengambil pas belajarnya. Motivasi mahasiswa akademik biasanya adalah tuntutan dari seseorang yang tetap mengingatkannya sehingga terlalu fokus pada kuliahnya saja layaknya orang tuanya ataupun kerabatnya. Melihat tipikal mahasiswa diatas, dapat kami simpulakan bahwa tidak semua mahasiswa hiraukan dengan kondisi problem universitas apalagi pada kondisi sosial masyarakat. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, mahasiswa yang notabenenya adalah Agent of Change dapat terkikis ketidak pekaan pada persoalan sosial yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat kedepannya.

4 tipikal diatas merupakan buah hasil dari NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) pada th. 1974, di mana banyaknya pergerakan mahasiswa serta menjelang kejatuhan rezim Presiden Soeharto tetap diperbaharuinya perihal NKK tersebut sampai pasca reformasi. NKK merupakan wujud murni kekhawatiran pemerintah sekiranya para mahasiswa punya pemahaman dan asumsi yang cukup kuat serta terdapatnya wadah-wadah organisasi sebagai wadah penyaluran pemahaman dan pemikirannya tersebut. Bila hari ini kami lihat sekurang-kurangnya pergerakan mahasiswa yang memperjuangkan persoalan di dalam kampus/sosial, itu termasuk berkat terdapatnya NKK sebagai senjata ampuh Pemerintah di dalam meredam semua pergerakan mahasiswa yang bagi Pemerintah merupakan sebuah ancaman.
Peran Organisasi Mahasiswa

Organisasi mahasiswa, mendengar kata organisasi pasti yang timbul dipikiran kami adalah sebuah perkumpulan. Perkumpulan yang punya visi misi serta anggaran dasar anggaran rumah tangga sebagai dasar pendirian sebuah organisasi. Organisasi mahasiswa di universitas merupakan sebuah wadah berprosesnya seorang mahasiswa, berproses lewat asumsi serta tindakan. Di organisasi seorang mahasiswa dapat mengetahui tata cara bicara yang baik di dalam forum, mengasah mental ketika berada di tengah forum, dan studi musyawarah di dalam sebuah jejak pendapat untuk menghasilkan ataupun memutuskan sesuatu.

Kampus merupakan miniatur kecil sebuah Negara, di mana di dalamnya terkandung Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai Pemerintah yang laksanakan sebuah program kerja serta Dewan Perwakilan Mahasiswa sebagai unsur legislatif yang merancang peraturan kemahasiswaan serta laksanakan pengawasan pada setiap program kerja yang dikerjakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa. Belum ulang terkandung pula Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa sebagai instansi netral yang dibentuk sebagai penyelanggara pemilihan Presiden/Wakil Presiden Mahasiswa (Tingkat Universitas), Gubernur/Wakil Gubernur (Tingkat Fakultas), serta Walikota/Wakil Walikota (Tingkat HIMA Prodi), untuk Dewan Perwakilan dipilih dengan cara yang berbeda-beda tiap di tiap kampus. Dan untuk Universitas Bung Hatta cara yang digunakan cocok Peraturan Rektor th. 2008 yakni ketika di dalam Kongres Mahasiswa (Tingkat Universitas) dan Musyawarah Mahasiswa Fakultas (Tingkat Fakultas). Di organisasi mahasiswa kami amat merasakan bagaimana bertanggung jawab cocok amanah dan tugas yang kami emban untuk melaksanakannya dengan baik, lebih-lebih termasuk di dalam organisasi mahasiswa kami dapat mempraktekan pengetahuan yang kami dapatkan sepanjang berproses didalamnya.

Ilmu apakah itu? Ilmu yang diajarkan ketika ikuti sebuah LKMM (Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa), biasanya setiap organisasi mahasiswa tetap mengadakan LKMM sebagai bekal kami di dalam berorganisasi. Biasanya yang dapat kami dapatkan adalah Manajemen Aksi, Manajemen Konflik, Kajian Strategi sampai Strategi Aksi. Semua dapat kami kuasai ketika memasuki sebuah organisasi. Percayalah, ilmu-ilmu tersebut amat berfaedah ketika kami terjun di dalam kehidupan penduduk mendatang. Sehingga sekiranya hari ini kami masih menggunakan otot sebagai fasilitas untuk selesaikan sebuah problem tetapi sekiranya kami telah dibekali ilmu-ilmu diatas tadi, otak lebih dominan sebagai fasilitas penyelesaian sebuah masalah. Di organisasi mahasiswalah kami dapat pembelajaran ilmu-ilmu yang memicu kami peka pada sesama, memicu kami lebih percaya diri, memicu kami lebih tenang ketika menghadapi masalah, serta sebagai miniatur tempat kami berkontribusi di dalam asumsi serta tindakan.

Dalam organisasilah termasuk kami studi apa itu Team Work, bagaimana memerintah dan diperintah. Karena sekiranya kami dambakan menjadi seorang pemimpin maka kami termasuk harus siap dipimpin. Ingatlah kawan, sebuah kerugian besar sekiranya dirimu tak pernah berproses di dalam sebuah organisasi dikarenakan kehidupan bermasyarakat yang kelak dapat kalian menghadapi tak seindah yang kalian bayangkan. Dengan berorganisasilah kalian punya bekal untuk kehidupan di jaman yang dapat datang. Hidup mahasiswa!